This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 06 Oktober 2009

Halal Bihalal

Oleh DASAM SYAMSUDIN

“Mereka yang menafkahkan hartanya, baik pada saat keadaan senang (lapang) maupun sulit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan orang-orang yang bersalah (bahkan berbuat baik terhadap mereka). Sesungguhnya Allah menyukai mereka yang berbuat baik (terhadap orang-orang yang bersalah)”.
QS. Al-Imran, ayat 134

Tradisi masyarakat Muslim Indonesia saat merayakan Hari Kemenangan (Lebaran/ red) atau Idulfitri, selalu melakukan Halal bihalal. Halal bihalal sebagaimana yang dipahami mayoritas masyarakat adalah—salah satunya—ritual saling memaafkan dari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan baik sengaja atau pun tidak.

Namun, benarkah halal bihalal hanya sebatas ritual saling memaafkan, selebihnya berbagi kebahagiaan pada hari kemenangan?

Kata halal bihalal secara harfiayh--untuk sementara--berarti “memperkenankan dengan sesuatu yang berkenan”. Sedangkan pengertian halal dari segi hukum ialah sesuatu yang bukan haram. Artinya, dari lima hukum pokok Islam, yaitu wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Hukum selain haram, maka itu termasuk kategori halal, termasuk untuk yang makruh. Makruh berarti sesuatu yang dibenci. Dan Allah dalam suatu hadits menyatakan, “halal yang paling dibenci Allah adalah at-Thalaq (perceraian)”. Jadi jelas, dalam hal ini halal mencakup empat hukum yaitu wajib, sunah, mubah dan makruh.

Akan tetapi, dalam konteks halal bihalal di Hari Lebaran, menurut Prof. M. Quraish Sihab, itu tidak tepat jikalau halal bihalal diartikan dalam konteks hukum. Sebab, hal ini akan menimbulkan ketidak harmonisan hubungan antara sesama. Bahkan dalam beberapa hal akan menimbulkan kebencian Allah kepada manusia. Karena hal makruh (yang dibenci) masih berlaku dalam kategori halal pada konteks tersebut. Jadi, halal bihalal yang dimaksud di sini berarti sesuatu yang benar-benar bisa menimbulkan rasa saling memaafkan, persaudaraan, dan saling memberi. Sebagaimana hikmah hari raya Idulfitri itu sendiri.

Merujuk pada buku karangan Prof. M. Quraish Sihab, Wawasan al-Quran. Kata halal di dalam al-Quran terulang sebanyak enam kali. dua kali dalam konteks kecaman, dan empat sisanya kata halal disebut dalam konteks perintah makan (kulu), dan juga digandengkan dengan kata thayyiban (baik). “…Dan makanlah (kulu) yang halal lagi baik dari apa yang telah Allah rezkikan kepadamu”. QS. Al-Ma’idah [5]; 88).

Kata makan dalam al-Quran sering diartikan “melakukan aktivitas apa pun”. Mungkin hal ini disudutkan pada pungsi makan itu sendiri, yaitu untuk memperoleh kalori yang dapat menghasilkan aktivitas. Dengn demikian, dalam konteks tersebut bisa diambil benang merah bahwa ayat di atas tidak semata-mata memerintahkan makan, melainkan keharusan melakukan aktivitas yang halal lagi baik (halalan-thayyiban).

Dengan demikian, kalau pun pada dasarnya kata halal bihalal—mungkin hanya secara bahasa saja—tidak terdapat dalam suatu hadist atau pun ayat, hal itu tiada lain hanya tradisi lokal masyarakat Indonesia. Akan tetapi, pelaksanaannya termasuk hal yang ma’ruf (baik). Dan tentunya Islam menganjurkan hambanya untuk melakukan perbuatan ma’ruf, apalagi di Hari yang Fitri.

Namun, sebagaimana uraian diatas, dalam mempraktikan halal bihalal, seorang Muslim harus benar-benar mempunyai ketulusan jiwa dan keikhlasan hati. Jangan sampai dihari yang fitri penuh berkah itu, ritual saling memaafkan, mengukuhkan kembali tali silaturahmi, dan berbagi kebahagiaan—seperti memberi pada yang membutuhkan—hanya sebatas ritual yang dilaksanakan karena itu dianggap budaya.

Di hari Lebaran, hal-hal yang dimurka Allah seperti permusuhan, kedengkian, rasa iri, rasa dendam, riya, ‘ujub, terputusnya tali silaturahmi, dan akhlak-akhlak tercela lainnya, yang—khusus di sini—semuanya hubungan antar sesama manusia harus “dihalalkan”. Maksudnya, semua sifat dan perbuatan buruk itu dihapus secara total dan diganti dengan hal-hal yang dicintai Allah swt.

Persaudaraan yang terputus dihubungkan kembali, permusuhan dijadikan pertemanan, kesalahan-kesalahan orang lain dimaafkan dengan tulus, kebakhilan diganti dengan kedermawanan, sikap acuh tak acuh diganti dengan rasa peduli dan solidaritas yang tinggi juga tulus. Kesemua hal itu jika dilakukan dengan ikhlas dan murni karena mengharap Ridho Allah swt, akan menjadi ibadah yang dahysat. Dan, Allah akan melimpahkan cintanya pada hamba yang berbuat demikian. Sebagaimana firman-Nya.

“Mereka yang menafkahkan hartanya, baik pada saat keadaan senang (lapang) maupun sulit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan orang-orang yang bersalah (bahkan berbuat baik terhadap mereka). Sesungguhnya Allah menyukai mereka yang berbuat baik (terhadap orang-orang yang bersalah)”. QS. Al-Imran, ayat 134. Wallahu A’lam.

Senin, 14 September 2009

Makna “Alif Lam” Pada Lapadz “Alhamdu”

Oleh DASAM SYAMSUDIN

“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”
Q.S. al-Fatihah: 2

Lapadz “alhamdu” (di tulis dalam bahasa Arab), selalu dihartikan “segala puji”, padahal hanya terdiri dari satu kalimat (kata/ red), yaitu kalimat isim (kata benda). Lapadz itu asalnya hamdu, sebagai bentuk mashdar dari fi’il (kata kerja) hamida-yahmadu-hamdan. Hamdu artinya pujian—bisa diartikan puji tapi bukan untuk menunjukan kata kerja melainkan nama pekerjaan.

Terlahirnya makna “segala puji” dari lapadz alhamdu, itu karena keberadaan alif lam. Tadinya kata hamdu hanya berarti puji untuk satu konotasi yang masih umum. Misalnya, hamdun li Ahmad, artinya pujian untuk Ahmad. Pengertian pujian itu bukan mencakup segala puji, misalnya karena Ahmad pintar, atau soleh, atau ganteng barangkali atau bahkan karena dia baik dan lain sebagainya. Pujian yang tertuju pada Ahmad tidak universal, hanya saja masih bersifat umum.

Berbeda ketika mengucapkan alhamdu, yaitu lapadz hamdu yang telah dibubuhi alif lam. Pada kata itu bisa diartikan “segala puji”, sebab alif lam yang ditambahkan pada lapadz hamdu itu mempunyai makna istighrok, artinya menyeluruh atau universal. Keseluruhan yang dimaksud dalam istighrok itu mencakup segala hal termasuk jenis dan turunannya. Dalam konteks puji, berarti mencakup segala puji, baik yang lahir dari ucapan, perbuatan, sifat, atau Dzatnya itu sendiri, atau bahkan dari ciptaan-Nya. Pokoknya seluruh kata yang berkonotasi positif terhadap suatu pujian—bukan untuk merendahkan (ironi)—itulah segala puji yang dimaksud dalam lapadz alhamdu.

Berarti, seandainya dikatakan alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Maka, segala sesuatu yang bersifat pujian itu tertuju pada Allah SWT, termasuk apabila pujian itu diucapkan seseorang untuk orang lain. Apapaun alasan seseorang bisa melahirkan suatu pujian terhadap orang lain, selama konotasi pujian itu positif, maka sesungguhnya pujian itu tidak bisa kena terhadap orang itu. Sebab, segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam. Ini berarti, seseorang tidak pantas memuji orang lain dan dia juga tidak berhak menerima pujian itu, apalagi diakui bahwa puji itu miliknya.

Jika dikaitkan dalam masalah tauhid. Apabila seseorang mengakui pujian yang tertuju padanya, itu sama saja mengakui milik Allah SWT. Seseorang bisa merasa memiliki adanya kedekatan dengan Allah SWT, tapi bukan artinya mengakui milik-Nya. Hal itu sama saja dia mengakui sebagai Tuhan, karena merasa pantas mendapatkan puji. Padahal jelas-jelas hanya Allah yang pantas mendapatkan segala puji.

Dilarang memuji orang lain, itu juga bukan artinya kita harus merendahkannya, manusia tetap harus saling menghargai. Jika memang dia mempunyai jasa pada orang lain, sudah sepantasnya orang itu mengucapkan terimakasih sebagai ungkapan penghargaan terhadap jasanya. Kebiasaan menghargai orang lain secara berlebihan bak mendewakan dengan suatu pujian, itu berbahaya. Karena, hal itu bisa menumbuhkan rasa “besar kepala” atau perasaan bahwa seseorang kedudukannya bisa lebih tinggi dari yang lainnya. Penghargaan yang diberikan itu harus sepantasnya, jangan berlebihan dan jangan pula menguranginya. Jika memang seseorang pantas mendapatkan ucapan yang baik, maka katakanlah. Atau, jika memang lebih dari ucapan, misalnya diberikan suatu hadiah, itu juga harus dilakukan jika memang pantas. Karena sebagaimana di atas, “penghargaan” juga bisa melahirkan suatu pujian. Maka harus dilakukan dengan layak dan ditujukan pada objek yang sesuai.

Jika seseorang mendapatkan puji, hal yang harus dilakukan adalah mengembalikan pujian itu pada Pemiliknya, yakni Allah SWT. Caranya—sebagaimana telah umum dimasyarakat kita—yaitu dengan mengucapkan alhamdulillah. Karena, disamping alif lam itu bermakna istighrok, huruf alif dan lam pada lapadz alhamdu juga sebagai cirri makrifat. Artinya untuk mengkhusukan kepada siapa pujian itu seharusnya dituju dan apa pujiannya. Misalnya kata “Kamu cantik” (ini benar-benar dikatakan untuk memuji). Nah, untuk mengembalikan pujian itu pada pemiliknya, kita katakan, “alhamdulillah”. Dengan adanya alif lam itu kata alhamdulillah konotasinya akan jelas, yaitu, saya memuji Allah—atau “suatu” puji bagi Allah—karena Dia telah menciptakan kecantikan.

Di atas tidak menggunakan kata “segala” sebab yang dimaksud adalah bentuk satu pujian kepada Allah karena Dia telah menciptakan kecantikan. Hal itu hanya untuk menspesifikasikan kemakrifatan (kekhususan) ali lam pada kalimat alhamdulillah, yakni Allah mendapat pujian sebab Dia telah menciptakan kecantikan itu.

Contoh yang lain, “Kamu baik”. Kita jawab alhamdulillah. Makna apa yang dimaksud dengan mengucapkan alhamdulillah dalam kasus tersebut? Yaitu, segala puji untuk Allah sebab Dia telah menciptakan kebaikan untuk kita, dan juga memberi kesempatan untuk berbuat baik, tentunya juga kekuatan sehingga kita bisa melakukan kebaikan atau alasan lainnya yang bisa melahirkan pujian. Di sini menggunakan kata “segala”, sebab yang ditujunya Allah dan alasan lahirnya pujian itu banyak.

Jadi, sebagai manusia kita jangan mengharap segala sesuatu karena ingin mendapat puji. Hal itu merugikan, disamping akan meleburkan pahala ibadah (jika merasa puji itu miliknya) juga akan membuat orang lain tidak menyukai kita, mungkin terkesan sombong atau merasa diri lebih baik dari orang lain. Selain itu, jangan pula terlalu berlebihan memuji orang lain. Menghormati dan menghargai orang lain memang harus, tapi tidak untuk mendewakan sehingga terkesan dia lebih tinggi derajatnya dari kita. Di hadapan sang Kholik semua manusia derajatnya sama, maka tak wajar manusia merendahkan atau meninggikan derajat yang lain dengan alasan menerima atau memberi pujian. Wallahu A’lam.

Kamis, 10 September 2009

Dai [Tukang] Kuli Bangunan

Oleh DASAM SYAMSUDIN

“Sampaikanlah (apa-apa) dariku, walaupun satu ayat” -Rasulullah saw. (al-Hadits)

Jika pengertian da’i secara sederhana adalah seseorang yang mengajak terhadap ajaran Allah. Maka, da’i ini bukan seseorang yang pandai dalam retorika dakwah. Ia juga bukan seorang ustadz apalagi ulama kondang. Dan, ia juga bukan jebolan pesantren. Selain itu, da’i ini mempunyai masa lalu yang “hitam”.

Kerana sebelum ia memahami ajaran agama Islam, ia sempat menduakan Tuhannya, shalatnya pernah bolong, puasanya sering tidak tamat sebulan, dan jelas bukan ahli sunnah. Akan tetapi, da’i ini adalah seorang tukang kuli bangunan.

Memang tidak tepat jika mengatakan ia seorang da’i, karena kenyataannya ia hanyalah seorang tukang kuli bangunan. selain itu, ia juga bukan orator yang selalu berceramah di depan umum mengajarkan ilmu Islam. Saya menyebutnya da’i, karena ia selalu mengajak seseorang agar beribadah kepada Allah dan meninggalkan kemusyrikan. Seruan ini ia lakukan tentu saja saat ia bekerja sebagai kuli bangunan, dan objeknya adalah teman-temannya.

Walaupun ia pekerjaannya tukang kuli bangunan, namun ia sering mendapatkan posisi sebagai mandor, dan terkadang sebagai pemborong kecil-kecilan. Nah, posisi yang ia dapatkan ini dimanfaatkan sebaiknya untuk mengajak teman-temannya atau rekan kerjanya-sebetulnya anak buahnya, cuma dia gak suka ada relasi tuan-budak-untuk beribadah kepada Allah. Hasilnya, lumayan baik. Setiap selesai bekerja, atau sedang beristirahat, da’i ini membiasakan dirinya dan rekan kerjanya membahas persoalan agama. Dia selalu berusaha memancing agar rekan kerjanya bertanya persoalan agama. Sehingga, mereka terbiasa membahas hal-hal keagamaan sebagai pengisi waktu luangnya.

Dengan demikian, lama-kelamaan banyak tukang kuli yang memahami arti kewajiban beribadah. Sehingga, yang tadinya jarang beribadah jadi sering beribadah kepada Allah.

Bahkan, para pemuda yang bekerja padanya, yang biasanya mabuk-mabukan, tidak sedikit yang merubah perilakunya dan menjadi ahli ibadah. Yang sangat menariknya lagi, ia juga sering mengadakan pengajian beserta teman-temannya atau rekan kerjanya setiap ba’da maghrib. Biasanya yang sering dibahas adalah masalah fiqih yaitu tata cara beribadah. Karena ia bukan seorang ahli agama, maka untuk mempokuskan pengajian tersebut da’i kuli ini selalu membawa kitab-kitab keagamaan, khususnya fiqih dan majalah Islam. Majalah Islam? Saya kira itu hal bagus. Dengan membawa majalah Islam, mereka bisa mengikuti pelbagai persoalan agama yang aktual. Majalah selalu menyajikan hal tersebut. Bukan begitu?

Saya kira untuk ukuran tukang kuli bangunan, bukan jebolan pesantren, dan ia memahami ajaran Islam pun dari pengembaraanya sebagai tukang kuli yang selalu berpindah tempat. Sangatlah menakjubkan, karena yang mengikuti ia tidak sedikit. Ia telah banyak merubah para tukang kuli menjadi seseorang yang merasa bahwa ibadah itu wajib di manapun dan dalam kondisi apapun. Dan, ucapannya yang sangat berpengaruh adalah, “Allah tidak akan menyia-nyiakan kuli bangunan seperti kita yang selalu meluangkan waktu sempitnya untuk beribadah. Karena, sesungguhnya apa yang kita lakukan (kuli bangunan) adalah ibadah, jika kita mau membuat tiang agamanya, yaitu shalat”.

Tentu saja seseorang tidak mau apa yang ia lakukan dari pagi sampai sore menjadi sia-sia (bukan termasuk ibadah). Sehingga, shalat sebagai wadah atau tiangnya agama, menjadi sesuatu yang harus bahkan sangat wajib dilaksanakan. Apalah arti bekerja sehari-hari, banting tulang mati-matian jika tidak mempunyai nilai pahala di sisi Allah. Dengan demikian, walaupun mereka tukang kuli, setiap kali waktu shalat tiba, mereka selalu menunaikan kewajibannya, bahkan shalat subuh pun mereka berjama’ah. Sungguh, dakwah yang efektif, dan ajaran kedisiplinan yang baik.

Apa yang saya katakan di atas, itu adalah apa yang saya alami juga, karena saya pernah mengikuti da’i itu. Saya pernah jadi pegawainya selama libur semester, sekitar tiga minggu. Saya kira dari hal demikian, kita semua bisa mengambil hikmahnya. Bayangkan saja, apabila seorang pemborong bangunan, kontraktor, mandor pegawai pabrik, direktur perusahaan besar, tuan pemilik toko, dan lain sebagainya. Jika mereka mengajak dan mengajari para pegawainya untuk beribadah, berusaha memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu mempunyai nilai ibadah. Bukankah hal itu sangat luar biasa.

Dengan demikian, kehidupan religiusitas masyarakat tidak akan sepi. Sejatinya, seorang yang mempunyai pengaruh, seperti halnya pemimpin pegawai, haruslah mementingkan nilai spiritual para pegawainya, bukan hanya mementingkan tenaga mereka saja. Dakwah seperti ini, sangatlah mulia. Saya pernah mendengar dari rekan kerja da’i itu, “Bos kita itu, sangat peduli terhadap pegawainya. Ia bukan hanya memperhatikan masalah bayaran kami (dunia) saja, tapi juga mementingkan ibadah kami (akhirat)”. Nilai plus yang sangat hebat sekali, karena seorang pegawai seakan mendapatkan perhatian yang sangat luar biasa dari bosnya. Adakah perhatian yang lebih berarti, dari pada perhatian dunia dan akhirat?

Oleh keran itu, kiranya semua orang bisa berdakwah (menyerukan kebaikan), siapa pun dan di mana pun. Dan jika para bos, pemborong, kontraktor, mandor, direktur dan pemimpin pegawai muslim memperhatikan masalah ini, akan banyak umat muslim yang hidupnya tidak sia-sia (untuk nilai akhirat), sebab ucapan mereka sangat berpengaruh. Karena, apa yang mereka (baca: pegawai) usahakan-bekerja apapun-akan menjadi nilai ibadah, jika mereka menyandingkannya terhadap Allah swt dengan melaksanakan rukun Iman, Islam dan Ihsan. Lantaran tiga hal itulah hidup di dunia ini selalu bernilai akhirat, walaupun hanya bagi tukang kuli bangunan, tenaganya adalah asset ibadahnya, bukan hanya sekedar
mesin pencari uang. Wallahu A’lam.

Ayat-ayat Kauniyah

Oleh DASAM SYAMSUDIN

“Maka apakah mereka tidak melakukan “Nazhor” (memperhatikan) unta, bagamana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gemunung, bagaimana mereka ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dibentangkan?"
Q.S. Al-Ghaasyiyah: 17-20

Bagaimana perasaan Anda, jika mengetahui sedikit informasi tentang alam semesta dari seorang ilmuwan? Misalnya, ia mengatakan bahwa alam semesta asalnya hanya sebuah gumpalan yang satu padu di mana langit dan bumi belum berpisah. Kemudian, terjadi dentuman besar (big bang) sehingga langit dan bumi terpisah seperti yang kita saksikan sekarang. Dan, Galaksi yang kita huni ini hanyalah bagian kecil—jika tidak
mengatakannya seperti debu—dari miliaran bintang gemintang dan planet-planet lainnya di tatar jagat raya. Dan, Langit yang senantiasa memayungi kita tanpa tiang sebetulnya terus mengembang menjauhi bumi dengan kecepatan tinggi.

Dan, matahari sebagai pusat garis edar Bumi pun mempunyai garis edaranya, di mana ia berputar di jalurnya mengelilingi pusat edar. Di luar angkasa juga, ada sebuah lubang hitam (black hole), daya hisap gravitasinya sangat besar, sampai-sampai mampu menghisap benda sebesar massa matahari bahkan kelipatannya. Dan, Ratusan, ribuan, bahkan jutaan miliar benda planet di luar angkasa berjalan pada garisnya
masing-masing, tidak berkeliaran dengan bebas, sehingga antar bintang dan planet tidak saling betabrakan.

Bagaimana jika ilmuwan itu memberitahu Anda bahwa di bulan ada tanda seakan bulan itu pernah terbelah dua, lalu menyatu kembali antar partikelnya? Dan, ia meyakinkan bahwa bulan memang perbah terbelah.

Selain tentang luar angkasa, bagaimana jika Anda mengetahui sedikit Informasi tentang Bumi dari ilmuwan pula. Bahwa, daratan yang ada di Bumi, di mana gunung-gemunung ditancapkan di atasnya, itu senantiasa bergerak—melaju bukan bergetar—kendati sangat lambat. Juga, laut yang terdiri dari jutaan miliar liter air. Itu tidak semua airnya bercampur. Seperti gelas yang berisi air manis dan air tawar. Kedua airnya tidak menyatu, dari satu sisi kita merasakan airnya tawar, dari
sisi lain airnya manis, padahal kedua air itu menempati gelas yang sama. Seperti analogi itu, air laut pun benar-benar ada yang terpisah. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa kendati air di laut dalam satu wadah, namun airnya itu berkelompok-kelompok (tidak campur).

Juga, di dalam dedaunan dari tetumbuhan, itu ada unsur apinya. Yakni setiap zat hijau daun (klorifil) itu menyimpan energi panas yang dipancarkan matahari melalui proses fotosintesis. Dan, awan-gemawan yang hilir mudik di langit itu mengangkut jutaan bahkan miliar liter air, yang suatu saat akan ditumpahkannya kebumi menjadi hujan. Dan, Tahukah Anda ? alam semesta yang secara indrawi sangat besar ini. sesungguhnya semua itu hanya partikel-partikel yang sangat kecil terdiri dari atom atau molekul.

Sekali lagi, bagaimana perasaan Anda mengetahui informasi—tepatnya pengetahuan—itu dari seorang ilmuwan terkemuka zaman sekarang? Percaya atau tidak? Subjektivitas saya, kalau ilmuwan terkemuka yang mengatakannya, akan banyak orang yang percaya.

Lalu, bagaimana kalau Anda mengetahui pengetahuan itu dari seorang manusia yang bukan ilmuwan, ia juga tidak pandai membaca dan menulis (ummy) pada abad ketujuh. Dia menceritkan kejadian-kejadian itu berdasarkan pengetehuan yang diperolehnya dari kitab suci al-Quran. Yang jadi pertanyaan bukan pada seorang ummy itu. Meleinkan apa yang disampaikan al-Quran. Percayakah Anda apa yang disampaikan al-Quran
itu ucapan manusia?

Padahal pada abad ke-7, manusia tidak mengerti sama sekali tentang kejadian alam semesta. Lagi pula seorang yang Ummiy ini (Rasulullah), dia hidup di tengah-tengah masyarakat yang masih sangat panatik dengan mitos-mitos dan sama sekali tidak mengetahui hal-ihwal alam semesta secara ilmiah. Saya yakin, semua sepakat. Bahwa yang diucapkan Rasulullah tentang alam semesta itu bukan kalam beliau. Melainkan
kalam Tuhan, yakni Allah swt.

Mengimani seluruh ayat-Nya

Saat al-Quran diturunkan, manusia tidak mengerti sama sekali tentang ilmu alam—kalau pun ada—hanya samara-samar dan masih sangat terbatas. Maksudnya, ilmu tentang alam semesta yang dimiliki manusia saat itu, pengetahuannya belum sampai menemukan apa-apa yang telah di ungkapkan al-Quran. Dan, barulah sekitar abad lima belas ke sini, para ilmuwan mencapai puncaknya dalam pengetahuan tersebut. Sehingga, ayat-ayat
“kauniyah” (ayat yang menceritakan tentang alam semesta), kebenarannya bisa terbukti melalui penemuan-penemuan mereka.

al-Quran adalah Kitabnya umat Islam. Seharusnya yang pertama kali bisa mengungkap “rahasia alam semesta” dalam pandangan “sains” itu orang Islam. Sejatinya, jika Muslim memang mengerti dan “membaca” al-Quran, walaupun ia tidak bisa mengungkap alam semesata, minimal ia tahu tentang kejadian itu secara garis besar. Sebagaiamana al-Quran menginformasikannya.

Di sini, sepertinya kita sebagai muslim harus berpikir sejenak. Betulkah kita sudah “membaca” seluruh ayat al-Quran? Yakinkah bahwa al-Quran itu sebagai “pedoman” sekaligus sebagai “induknya pengetahuan”? al-Quran memang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman kehidupan. Namun, kita jangan hanya membidik
ayat-ayat tentang ubudiyah saja, apalagi ayat itu untuk menyerang sesama saudara Muslim. Salah besar jika al-Quran hanya pedoman ritual ibadah saja. Sebab, selain ayat tentang ibadah, akidah dan tauhid, al-Quran juga menyajikan ayat-ayat ‘kauniyah’. Yaitu, ayat-ayat yang menjelaskan atau menceritakan tentang alam semesta, sifat, sikap, dan gejalanya.

Sebagai “pembaca” kitab suci Islam, tidaklah baik mengimani sebagian ayat dan mengacuhkan bahkan tidak menganggap penting ayat yang lainnya. Sebab Allah SWT menceritakan tentang “kauniyah” di dalam al-Quran, tentu saja agar hal itu diyakini kebenarannya dan dipikirkan kejadiannya. Al-Quran beberapa kali mengatakan “ulul al-bab dan ulul al-abshar”, yang esensinya, betapa hamba Allah harus memahami
betul-betul ayat-ayat Allah. Karena, pada ungkapan itu Allah cenderung menyinggung “pikiran” dari pada “hati”. Artinya, tentu saja agar kita bisa memahami kehidupan (alam semesta), bukan sekadar melihat dan merasakan keindahannya. Wallahu A’lam.


Minggu, 30 Agustus 2009

Relasi Kosmologis Urang Sunda

Oleh DASAM SYAMSUDIN

Kisah atau cerita Ki Sunda tentang tanah sunda, tidak terlepas dari hubungannya dengan alam sekitar. Kedekatannya dengan alam yang telah dilestarikannya, tiada lain karena menjaga hubungannya dengan Tuhan, yang selanjutnya melahirkan kearifan-kearifan terhadap alam yang diciptakan-Nya. Salah satu caranya dengan menjaga tanah sunda dari hal-hal yang akan meruksaknya, baik terhadap tanah, tumbuhan, air (sungai, danau bahkan laut) atau yang lainnya.

HUBUNGAN antara masyarakat sunda dan tanahnya harus dijaga, yaitu dengan cara melestarikannya. Dilihat dari sisi teologis, tanah adalah pemberian Tuhan Yang Maha Pencipta untuk di manfaatkan oleh manusia dengan tidak merusaknya (baca: mengarifi). Dengan demikian, hubungan urang sunda dan tanah tempat pijakan kehidupannya itu mempunyai nilai transendental—sebut saja pesan kelangitan—yaitu sesuatu yang harus dilestarikan semata-mata menjaga dan mensyukuri nikmat karunia Tuhan yang sangat agung ini. Sebagaimana tujuan Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi "pemimpin di muka bumi" tiada lain agar merawat dan melestarikan bumi. Al-Quran, Surat al-Baqoroh ayat 30.

Hubungan dengan Tuhan

Dengan demikian, menjaga kelestarian tanah sunda yang telah dianugrahkan Tuhan merupakan "kewajiban moral" yang diperintahkan-Nya kepada manusia. Bagaimana tidak? Perintah Tuhan ini sangat rasional, menjaga tanah sunda, berarti kita juga mempertahankan kelangsungan hidup. Karena, kecenderungan manusia terhadap alam tidak bisa dinafikan. Manusia dengan alam tidak bisa dipisahkan, saya menganalogikan hal ini—jika diterima—memisahkan manusia dengan alam sama saja memisahkan jasad dengan ruh.

Analogi ini saya utarakan karena saking tidak bisa terlepasnya manusia dengan alam. Oleh karena itu, jika urang sunda mampu melestarikan dan menjaga tanahnya, berarti mereka telah melestarikan dan menjaga kehidupan dan hidupnya. Keakraban hubungan dengan alam ini pun mengindikasikan bahwa masyarakat sunda itu merupakan masyarakat yang beragama. Karena, tatakrama terhadap alam sekitar masih dijaganya sebagai salah satu perwujudan kearifannya.

Namun, apabila mereka tidak melestarikan bahkan merusaknya, itu sama saja dengan mengikis hidup dan keutuhan kehidupan urang sunda. Sehingga, masyarakat sunda akan terkesan sebagai masyarakat yang jauh dari nilai-nilai Ketuhanan yang selanjutnya menghilangkan nilai-budaya lokal.

Nah, maka dari itu, melestarikan tanah sunda berarti kita juga menjaga hubungan kita dengan Tuhan Yang Maha Esa. Tentu Tuhan akan senang apabila bumi atau alam raya ciptaan-Nya di rawat dan dilestarikan oleh manusia. Kendati tanah sunda hanya penggalan dari sub alam yang besar, tanah sunda juga merupakan anugrah yang tidak akan bisa dibeli dengan apapun dan oleh siapa pun. Maka, jika tanah ini telah rusak tidak akan ada lagi gantinya. Untuk itu, dari sekarang dan secara bersinergi, masyarakat sunda harus selalu berusaha merawat tanah kelahirannya ini.

Menjaga tetap hijau

Untuk menjaga tanahnya agar tetap subur, sekaligus sebagai realsiasi dari perintah Tuhan. Masyarakat yang mendiami tanah sunda, harus bisa mempertahankan agar tanah tercintanya itu, tetap hijau (baca: subur), tidak gersang. Untuk menjaga tanah agar tetap hijau, hal itu bisa dilakukan dengan cara bercocok tanam yakni mempertahankan lahan pesawahan, ladang atau tanah pertanian lainnya yang masih luas dan menghampar.

Masyarakat sunda yang mata pencahariannya sebagai petani masih banyak. Mereka bekerja hanya mengelola tanah dengan bercocok tanam, banyak ragam tanaman yang mereka tanam, salah satunya tanaman yang menjadi panganan pokok. Nah, jika lahan pertanian semakin menyempit, maka upaya mencari makanan pokok dari tanah sunda sendiri akan sulit. Padahal, salah satu ciri matapencaharian urang sunda adalah bertani atau mengelola tanah.

Banyak keuntungan bagi kehidupan dalam pengelolaan tanah, disamping untuk kelangsungan hidup pribadi, juga untuk kelangsungan masyarakat dan kelestarian alam sunda. Dengan bercocok tanam, alam akan kelihatan hijau dan terjaga dari kepunahannya. Untuk bercocok tanam, itu tidak dibatasi harus kalangan petani saja. Semua orang bisa. Bahkan harus bercocok tanam. Walaupun itu hanya menanam kembang atau membuat taman kecil dirumah. Hal ini baik untuk kelestarian alam sunda.

Di samping itu, agar tanah urang Sunda tidak terkesan semakin menyempit disamping kehijauannya. Mereka juga harus bisa menjaga dan jangan terlalu banyak mendirikan bangunan sembarangan, tanpa adanya tata kota yang teratur.

Memasuki era modern, hasrat manusia untuk bermegah dan menghiasi kehidupan dengan bangunan besar dan mewah, memang tidak bisa dihentikan, termasuk untuk urang Sunda. Namun, tetap saja harus diingat dan diperhatikan, bahwa manusia itu sangat membutuhkan alam yang hijau dengan kesuburannya. Apalah arti bangunan-bangunan megah, jika alam sebagai central pondasi paku buminya tidak bersahabat. Artinya, tanah bisa menjadi rapuh jika tidak ada tumbuhan yang « hidup diatasnya ».

Selain itu, banyaknya bangunan besar dengan tumbuhan yang langka, akan menimbulkan ketidak nyamanan populasi atau ekologis. Contoh konkretnya yaitu, suasana tidak nyaman atau terasa gerah. Bukannya tidak boleh mendirikan bangunan, akan tetapi keteraturan pendirian bangunan harus dijaga. Dan yang terpenting jangan sampai mengikis tanah sunda yang hijau nan subur ini.

Dengan demikian, menjaga atau melestarikan tanah sunda, disamping sebagai kewajiban urang Sunda atas hubungannya dengan Tuhan. Juga yang pasti, melestarikan tanahnya berarti menjaga kehidupannya dari kepunahan atau setidaknya dari ketidak nyamanan hidup. Bukankah tanah sunda itu nyaman untuk dihuni oleh manusia?